Baru-baru ini pada masa tenang pemilu, youtube dan media sosial diramaikan dengan film dokumenter yang membahas tentang dibalik suksesnya PLTU sebagai penghasil listrik terbesar di indonesiA. Ya PLTU dan pertambangan batu bara yang terdokumentasi rapi dalam sebuah film documenter bernam “SEXY KILLER” yang di upload dari channel youtube watchdoc image. Dari 13 April 2019 film ini di published sampai tertanggal hingga hari ini (26/4) film documenter ini sudah mencapai 19 juta penonton.

Dalam film ini kata “killer” yang dimaksud adalah perusahaan tambang batu bara dan PLTU yang telah secara perlahan merugikan rakyat dengan pencemaran lingkungan dan lahan-lahan yang diambil secara sewenang-wenang dari rakyat untuk pembangunan PLTU dan pertambangan batu bara ini  , lantas  adjektiva “sexy” yang dimaksud adalah bahwa ternyata para pemegang saham dari PLTU dan perusahaan tambang batu bara ini adalah orang-orang yang memiliki kuasa di negeri ini.

Begitu mahal ongkos sosial yang harus dibayar agar PLTU tetap berjalan, lebih dalam lagi dampak sosial yang ditimbulkan akibat pembangunan PLTU dan batu bara ini adalah  banyak warga dan  anak-anak yang meregang nyawa di lubang bekas tambang batu bara yang tidak ditutup dengan baik oleh pihak perusahaan, kesaksian petani-petani yang dimana mereka lahannya dijadikan untuk pembangunan  PLTU, hingga rakyat yang berusaha meminta keadilan mendapat kriminalisasi yang tidak dia perbuat.

Pada intinya, film Sexy Killers mempertontonkan oligarki politik di negeri ini, dimana para elit politik adalah kelompok bisnis yang elit dalam perusahaan. Keseksian inilah yang mengundang gairah kita tepatnya untuk protes ke elit politik di negeri ini atas kondisi tersebut.